Pages

Blogroll

Labels

Rabu, 05 November 2014

ASAL USUL WAYANG KULIT PURWA


Kesenian wayang dalam bentuknya yang asli timbul sebelum kebudayaan Hindu masuk di Indonesia dan mulai berkembang pada jaman Hindu Jawa (animisme dan dinamisme). Tentang asal-usul kesenian wayang masih merupakan suatu masalah yang belum terpecahkan secara tuntas.
Menurut Kitab Centini, tentang asal-usul wayang purwa disebutkan bahwa kesenian wayang, mula-mula sekali diciptakan oleh Raja Jayabaya dari Kerajaan Mamenang/Kediri menggunakan daun lontar.
Masa berikutnya yaitu pada jaman Jenggala, kegiatan penciptaan wayang semakin berkembang. Semenjak Raja Jenggala Sri Lembuami luhur wafat, maka pemerintahan dipegang oleh puteranya yang bernama Raden Panji Rawisrengga dan bergelar Sri Suryawisesa. Semasa berkuasa Sri Suryawisesa giat menyempurnakan bentuk wayang purwa. Wayang-wayang hasil ciptaannya dikumpulkan dan disimpan dalam peti yang indah. Sementara itu diciptakan pula pakem ceritera wayang purwa. Setiap ada upacara penting di istana diselenggarakan pagelaran wayang purwa dan Sri Suryawisesa sendiri bertindak sebagai dalangnya. Para sanak keluarganya membantu pagelaran dan bertindak sebagai penabuh gamelan.
Pada masa itu pagelaran wayang purwa sudah diiringi dengan gamelan laras slendro. Setelah Sri Suryawisesa wafat, digantikan oleh puteranya yaitu Raden Kudalaleyan. Selama masa pemerintahannya beliau giat pula menyempurnakan wayang. Gambar-gambar wayang dari daun lontar hasil ciptaan leluhurnya dipindahkan pada kertas dengan tetap mempertahankan bentuk yang ada. Dengan gambaran wayang ini, setiap ada upacara penting di kraton diselenggarakan pagelaran wayang
Ceritera wayang masuk ke Indonesia, khususnya ke Pulau Jawa dan Bali bersamaan dengan masuknya agama Hindu (penyebaran sekaligus upacara ritual agama Hindu).
Pada masa itu ,sementara pengikut agama Islam ada yang beranggapan bahwa gamelan dan wayang adalah kesenian yang haram karena berbau Hindu. Timbulnya perbedaan pandangan antara sikap menyenangi dan mengharamkan tersebut mempunyai pengaruh yang sangat penting terhadap perkembangan kesenian wayang itu sendiri. Untuk menghilangkan kesan yang serba berbau Hindu dan kesan pemujaan kepada arca, maka timbul gagasan baru untuk menciptakan wayang dalam wujud baru dengan menghilangkan wujud gambaran manusia. Berkat keuletan dan ketrampilan para pengikut Islam yang menggemari kesenian wayang, terutama para Wali, berhasil menciptakan bentuk baru dari wayang purwa dengan bahan kulit kerbau yang agak ditipiskan dengan wajah digambarkan miring, ukuran tangan dibuat lebih panjang dari ukuran tangan manusia, sehingga sampai dikaki. Wayang dari kulit kerbau ini diberi warna dasar putih yang dibuat dari campuran bahan perekat dan tepung tulang, sedangkan pakaiannya di cat dengan tinta.
Pada masa itu terjadi perubahan secara besar- besaran diseputar pewayangan. Dirubah pula tehnik pakelirannya dengan mempergunakan sarana kelir/layar, mempergunakan pohon pisang sebagai alat untuk menancapkan wayang, mempergunakan blencong sebagai sarana penerangan, mempergunakan kotak sebagai alat untuk menyimpan wayang. Dan diciptakan pula alat khusus untuk memukul kotak yang disebut cempala. Meskipun demikian dalam pagelaran masih mempergunakan lakon baku dari Serat Ramayana dan Mahabharata, namun disana-sini sudah mulai dimasukkan unsur dakwah, walaupun masih dalam bentuk lambang-lambang.
Seperti yang disebutkan dalam buku Wayang, Kebudayaan Indonesia, dan Pancasila karangan Pandam Guritno, mengacu dari apa yang terungkap dalam karya sastra tersebut, berarti wayang purwa telah ada sejak zaman pemerintahan Airlangga (1019-1043).
Sebab, Mpu Kanwa adalah salah seorang sastrawan yang hidup pada masa pemerintahan Airlangga. Dengan kata lain, wayang purwa atau yang sering disebut dengan wayang kulit itu telah dikenal sejak hampir 1.000 tahun lalu.
"Jika dihitung dari zaman Airlangga, wayang purwa telah dikenal dan digemari hampir 1.000 tahun," ujar Pandam Guritno seperti yang tertulis dalam bukunya itu

0 komentar:

Posting Komentar